KISAH TRAGEDI PEMBANTAIAN ETNIS MUSLIM ROHINGYA DARI DULU HINGGA KINI
Tragedi Terkini Pembunuhan 10 orang Etnis Muslim Rohingya
Kisah tragedi terkini yang memilikan itu terjadi ketika
dalam perjalanan menuju rumah dari tempat bekerja sebagai tukang jahit,
Ma Thida Htwe, seorang gadis Buddha berumur 27 tahun, putri U Hla Tin,
dari perkampungan Thabyechaung, Desa Kyauknimaw, Yanbye, ditikam
sampai mati oleh orang tak dikenal. Lokasi kejadian adalah di hutan
bakau dekat pohon alba di samping jalan menuju Kyaukhtayan pada tanggal
Penyelidikan menunjukkan bahwa Htet Htet (a) Rawshi tahu rutinitas
sehari-hari korban yang pulang-pergi antara Desa Thabyechaung dan Desa
Kyauknimaw untuk menjahit. Menurut pengakuannya dia berbuat dipicu oleh
kebutuhan uang untuk menikahi seorang gadis, dan berencana untuk
merampok barang berharga yang dipakai korban. Bersama dengan Rawphi dan
Khochi warga muslim Bengli. Rawshi menunggu di pohon alba dekat tempat
kejadian. Tak lama Ma Thida Htwe yang diincarnya datang dan berjalan
sendirian, ketiganya lalu menodongkan pisau dan membawanya ke hutan.
Korban lalu diperkosa dan ditikam mati, tak lupa merenggut lima macam
perhiasan emas termasuk kalung emas yang dikenakan korban. Untuk
menghindari kerusuhan rasial dan ancaman warga desa kepada para
tersangka, aparat kepolisian setempat bersiaga dan mengirim tiga orang
pelaku tersebut ke tahanan Kyaukpyu. Sehubungan dengan kasus Ma Thida
Htwe yang dibunuh, sekelompok orang yang terkumpul dalam Wunthanu
Rakkhita Association, Taunggup, membagi-bagikan selebaran kepada
penduduk lokal di tempat-tempat ramai di Taunggup, disertai foto Ma
Thida Htwe dan memberikan penekanan bahwa massa Muslim telah membunuh
dan memperkosa dengan keji wanita Rakhine. Sorenya tersiar kabar bahwa
ada mobil yang berisikan orang Muslim dalam sebuah bus yang melintas
dari Thandwe ke Yangon dan berhenti di Terminal Bus Ayeyeiknyein.
Petugas terminal lalu memerintahkan bus untuk berangkat ke Yangon dengan
segera. Bus berisi penuh sesak oleh penumpang. Beberapa orang dengan
mengendarai sepeda motor mengikuti bus. Ketika bus tiba di persimpangan
Thandwe-Taunggup, sekitar 300 orang lokal sudah menunggu di sana dan
menarik penumpang yang beridentitas Muslim keluar dari bus. Dalam
bentrokan itu, sepuluh orang Islam tewas dibantai dan bus juga dibakar
hancur luluh lantak.
Etnis Rohingya
Rohingya adalah grup etnis yang kebanyakan beragama Islam di Negara
Bagian Rakhine Utara di Myanmar Barat. Populasi Rohingya terkonsentrasi
di dua kota utara Negara Bagian Rakhine sebelumnya disebut Arakan. Etnis
Rohingya adalah masyarakat muslim yang hidup tanpa kewarganegraan di
Myanmar. Muslim Myanmar hanya berjumlah 4% dari total populasi Myanmar
dan menjadikan etnis Rohingya minoritas. Etnis Rohingya tinggal di
perbatasan Myanmar dan Bangladesh sejak wilayah itu masih menjadi
jajahan Inggris. Namun, saat kedua negara itu merdeka, mereka mendapat
perlakuan buruk. Walau sama-sama beragama muslim, etnis Bengal selaku
mayoritas di Bangladesh enggan mengurus mereka. Hal ini menyebabkan
banyak keluarga Rohingya nekat menetap di Myanmar.
Etnis Rohingya hidup di perbatasan dengan Bangladesh, sangat mudah
untuk mengusir masyarakat Rohingya untuk meninggalkan Myanmar dan
menetap di Bangladesh. Sebelumnya pada perang dunia ke II, banyak
masyarakat Rohingya yang juga berimigrasi ke Bangladesh dan saat ini
yang menetap di Rohingya hanya 90.000 orang. Banyak konspirasi yang
berkembang di Asia mengenai Rohingya, ada yang mengatakan muslim sebagai
teroris, ada juga yang mengatakan muslim tidak mau murtad dan memeluk
Budha hingga akhirnya dibunuh. Namun, dibandingkan dengan sekedar
konspirasi, fakta yang berkembang adalah dibantainya etnis Rohingya di
Myanmar.
Pada tahun 1988, muncul sistem baru di Myanmar. Walaupun rezim
otoriter militer yang memimpin, tapi Myanmar menggunakan sistem pasar.
Ketika itu ada undang-undang baru yang namanya The Union of Myanmar
Foreign Investment Law. Payung hukum ini adalah perlindungan terhadap
sektor eksplorasi dan pengembangan sektor minyak dan gas alam yang
melibatkan korporasi-korporasi asing.
Pada kasus Arakan ini adalah pertarungan soal minyak dan gas bumi.
Pada tahun 2005, perusahaan gas Cina menandatangani kontrak gas dengan
pemerintah Myanmar untuk mengelola eksplorasi minyak. Dari konflik
kepentingan ekonomi itu dari konflik ekonomi menjadi konflik sosial
secara horisontal. Pihak rezim militer di Myanmar dari era Ne Win hingga
sekarang ini, ternyata telah melibatkan perusahaan asing semacam
Chevron AS maupun Total Perancis, padahal kedua negara ini kan di
permukaan mengangkat isu hak asasi manusia. Tampaknya sulit dihindari
dugaan ada pertarungan bisnis yang bermain melalui pintu belakang dari
rezim militer Myanmar.
Upaya sengaja untuk merampas hak atas tanah, penolakan
kewarganegaraan, pembantaian massa, pengusiran, pembakaran pelarangan
pelaksanaan ibadah, penutupan jalur pasokan makanan, dan sejumlah
tindakan brutal lainnya adalah sangat bertentangan dengan nilai-nilai
kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (HAM)
Tindakan diskriminatif yang menimpa Muslim Rohingya berlatar belakang
agama. Ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Penganiayaan yang
dilakukan dengan cara-cara militer kepada warga sipil harus segera
dihentikan. Seluruh bangsa-bangsa di dunia harus bertanggungjawab atas
nasib dan masa depan suku Rohingya di Myanmar. Tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh tentara Myanmar ini tidak dapat ditolerir atas nama
apapun. Bahkan, tindakan-tindakan ini mengindikasikan telah terjadinya
skenario pembasmian etnis terhadap kaum muslim Rohingya.
Konflik Horisontal Antar Agama
Ternyata bukan hanya ditekan oleh militer dan pemerintahan Birma.
Etnis muslim Rohingyapun juga menjadi sumber konflik horisontal antar
agama. Konflik horisontal ini semakin memanas ketika para tokoh pemuka
agama sudah mulai ikut melakukan intervensi. Di sejumlah titik dekat
pengungsian, sekelompok biksu mengeluarkan selebaran berisi peringatan
kepada warga Myanmar untuk tidak bergaul dengan Muslim Rohingya.
Sementara selebaran lainnya berisi rencana untuk memusnakah kelompok
etnis lain di Myanmar. Lebih rumit lagi, ketika dua organisasi biksu
terbesar di Myanmar, Asosiasi Biksu Muda Sittwe dan Asosiasi Biksi Mrauk
Oo menyerukan agar warga Myanmar tidak bergaul dengan Muslim Rohingya.
“Muslim Rohingya bukanlah kelompok etnis Burma. Mereka akar penyebab
kekerasan,” kata salah seorang pemimpin biksu, Ashin Htawara dalam
sebuah acara di London.
Direktur Arakan Project LSM lokal, Chris Lewa, mengungkapkan
“Biarawan Myanmar disebut turut andil menyebarkan kebencian terhadap
Muslim Rohingya. Beberapa tahun terakhir, para biksu memainkan peranan
dalam penolakan masuknya bantuan kepada umat Islam,” Beberapa anggota
badan kemanusiaan di Sittwe juga ikut bersaksi bahwa sejumlah biksu
ditempatkan dekat kamp pengungsi. Mereka memeriksa setiap orang yang
berkunjung lantaran khawatir akan memberikan bantuan. Para pengamat
mengatakan, biksu Myanmar terlihat memblokir bantuan internasional yang
ditujukan untuk pengungsi muslim. Di Sittwe misalnya, para biksu menolak
untuk mengizinkan masuknya bantuan internasional. Menurut mereka,
bantuan itu sangat bias. Amnesty Internasional mengatakan selepas
bentrokan Muslim Rohingya kerap mendapat serangan fisik. Bahkan tak
jarang jatuh korban.
Ditolak dimana-mana
Diperkirakan, sebanyak 800 ribu Muslim Rohingnya tinggal di Myanmar.
Namun, pemerintah menganggap mereka sebagai orang asing dan warga
Myanmar juga menyebut mereka pendatang haram dari Banghladesh. Kondisi
Muslim Rohingnya semakin mengkhawatirkan karena dunia tidak
mempedulikannya. Bangladesh sendiri tidak bersedia menampung mereka
dengan alasan tidak mampu. Sehingga banyak pengungsi Rohingya ke
Bangladesh dipulangkan kembali begitu tiba di Bangladesh. Perdana
Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, menyatakan negaranya tidak ingin ikut
campur soal nasib pengungsi Rohingya. Kekerasan dua bulan terakhir yang
menimpa etnis minoritas itu bagi dia urusan pemerintah Myanmar.
Jangankan mendapat perlindungan, diperlakukan layak saja sudah sangat
beruntung. Setibanya di pantai-pantai Bangladesh, mereka dikumpulkan dan
dijaga ketat oleh aparat bersenjata lengkap. Di bawah todongan senjata
mereka dibariskan lalu diberi nasi bungkus dan satu botol air minum.
Tentara militer dengan menggunakan senapan serbu semi-otomatis yang
biasa digunakan dalam perang itu, kemudian menggiring mereka ke dermaga.
Setelah itu mereka disuruh naik ke sampan-sampan yang jauh dari layak
untuk menyeberangi lautan. Dengan tanpa belas kasihann sedikitpun para
militer tersebut melakukan perintah komandannya untuk memaksa para
pengungsi itu untuk masuk ke sampan itu lalu kembalilah ke laut.
Di Bangladesh ditolak di Burma diusir, sehingga para Muslim tak
berdaya terkatung-katung di laut tidak tahu harus kemana. Tak peduli
mereka mau kemana yang pasti tidak merepotkan Bangladesh. Praktis Muslim
Rohingya itu kebingungan harus kembali ke mana. Sebab, di Myanmar
mereka tidak diterima bahkan disiksa dan di Bangladesh juga diusir-usir.
Bahkan Presiden Myanmar Thein Sein mantan jenderal militer itu
mendukung kebijakan yang mendorong terjadinya penghapusan etnis. Thein
Sein mengatakan, sekitar 800 ribu etnis Rohingya harus ditempatkan pada
kamp pengungsi dan dikirim ke perbatasan Bangladesh. Lebih menyedihkan
lagi ketika pejuang demokrasi Myanmar sekaligus peraih Hadiah Nobel
Perdamaian, Aung San Suu Kyi memilih diam menghadapi kebijakan Presiden
Thein Sein dalam menyelesaikan kasus etnis Rohingya.
Saat ini etnis Muslim Rohingya mungkin salah satu kelompok yang
paling teraniaya di dunia. Etnis Rohingya tak boleh ada di Myanmar dan
tidak diterima di bangladesh. Tak ada pilihan selain naik sampan dan
akhirnya terkatung-katung di samudera luas. Banyak di antara mereka yang
gagal menaklukan ganasnya samudera sehingga harus tewas dan dikuburkan
di lautan. Mudah-mudahan doa para teraniaya itu dapat menyelematkan
mereka atas upaya manusia tidak berperikemanusiaan untuk membasminya di
muka bumi ini.
sumber:
http://demokrasiindonesia.com/2012/07/29/kisah-tragedi-pembantaian-etnis-muslim-rohingya-dari-dulu-hingga-kini/
0 komentar:
Posting Komentar